nonton AAC

Masuk kantor, temen2 sedang bercerita tentang novel dan film ayat-ayat cinta. Ana ‘arif hazha (tahu) mengenai adanya novel tersebut, Cuma emang belum baca, karena nggak hobi baca novel yang menurutku lebih banyak menghabiskan waktu, padahal masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan, atopun kalo mo baca, mending baca yang bermanfaat.“Tapi, ini lain”, komentar salah satu temen, pada lokasi yang sama, seorang rekan nyetel film di computer, nggak tau, apakah itu bajakan, ato asli (kayaknya sih yg asli belum keluar ya ?), tapi gambarnya cukup bagus kok. Ana juga mendapat info bhw salah satu pemainnya adalah rianti (sbg gadis dengan jilbab + cadar), sedangkan pemain lainnya belum banyak kenal… J. Sorry, aku nggak terlalu konsen dengan orang ato nama bintang film, bahkan kalo penampilannya diubah dikit, ana sering tanya ke zaujatiy, “as al, man huwa/hiya aw ma ismuhu/ha” (mo Tanya, siapa dia, atau siapa namanya). “Oke, aku tonton filmnya dulu dech, tolong di sharing ya…”, J , iseng2 ana usyahidu hadza film (ana tonton film tsb), dari detik ke detik aku larut dengan film tsb, ada sedikit hal aneh dengan kepribadian fahri, alur cerita, intonasi dengan bhs arab, tapi cuek dulu dech…abisin filmnya dulu, walopun nontonnya sepotong2, krn sambil kerja, akhirnya abis juga tuh film. Ada kecemburuan pada film tersebut krn cita2 yang belum tersampaikan, yaitu kuliah di Timur Tengah, ya..minimal tinggal dan kerja di sana dech, hingga dapat mendalami bhs arab dan ikut kajian rutin di sana. Hingga abis nonton AAC, langsung semangat utk membaca buku2 arab lagi…hehehe…anget2 pisang goreng. Ketemu temen2, mereka memandingkan sikap ana dengan sikap fahri. Ana bilang “dia itu lulusan al azhar, ana Cuma tinggal di deket mesjid al azhar itu juga local..hehehe”.  

Pulang kantor, ana ajak zaujatiy nonton AAC di bioskop, namun krn kepala pusing, terpaksa di cancel, sabtu pagi, astariy al akhbar (ana beli Koran) utk liat jadwal cinema, wah hampir semua jadwalnya bentrok dengan waktu shollat, masa sih shollat ditunda karena nonton ??, jika adapun mulainya jam 21.30 WIB, apa nggak kemaleman ya ??. akhirnya ana wa zaujatiy sepakat utk nonton AAC pada jam tersebut. Dengan modal yakin kebagian tiket, ba’da isya kita pergi ke cinema, wah jalannya macet banget bok…, kita titipkan assayaroh fi bait ammiy (di rumah om) yg kebetulan tinggal deket situ. Akhirnya kita jalan kaki ke bioskop E-Plaza, sampai di sana, ternyata abis tiket…weleh…, buru2 ana putusin utk ke bioskop ciputra yang jaraknya sekitar 100 meter, tapi jalan kaki sekitar 30 menit karena banyak orang yg jalan kaki/berkendaraan, maklum lapangan simpang lima sedang ada konser. Sampai di bioskop ciputra, tiket abis juga… L

Mendengar suara nafas yang engos2an zaujatiy krn perjuangan melewati kerumunan orang di simpang lima, lalu dibuat contingency planning, tiba2 ada 2 mahasiswi yg datang dan menawarkan 2 buah tiket, “Pak, mau nonton ya ?, kita punya 2 tiket, kita nggak jadi nonton, krn kita bertiga, tapi dapet tiketnya Cuma 2 buah”, “oke, kita beli”, jawab saya spontan. Zaujatiy bilang ini namanya LOA (Law of Attraction), kalo ana bilang, “jawaban ini ada di secret”. Tapi bukan itu yg penting, kita muslimin, bhw ini Alloh berikan kemudahan bagi kita untuk nonton krn punya niat yg baik, yaitu : 

  1. Kita pilih jam malam, agar kita bisa shollat tepat/diawal waktu baik zuhur, ashar, magrib, dan isya. Hanya jam 21.30 yg memungkinkan kita nonton tanpa mengganggu komitmen ana dan zaujatiy utk shollat di awal waktu.
  2. Lebih dari 6 tahun, tidak ke bioskop, kali ini berharap mendapat pembelajaran dari film tsb (semoga).

Pulang dari bioskop, kita langsung tidur, tapi apes hingga subuh, ana ngga bisa tidur sama sekali, yg ada diotak hanya mata-nya aisah….sambel goreng….asli kagak bisa tidur… Menonton AAC membuat hayalan masa kecil timbul lagi, siapa yang tidak menginginkan kuliah di luar negeri, apalagi belajar di tempat para ulama mengajar dan berjihad, kampus Al Azhar dan kairo merupakan impian banyak pelajar utk menuntut studi di sana, dan mengaji langsung dari para ustadz, syeikh dllSatu lagi hayalan masa kecil, ana suka melihat wanita bercadar, dan pada film tsb sangat pantas digunakan oleh Rianti/Aisha. Semoga Alloh berikan hidayah pada dirinya utk selalu menjalankan syariatNYA dan meng’amalkan sunnah Rosululloh.Sayangkan jika film itu memberikan pelajaran thd penontonnya tapi tidak berpengaruh thd pemainnya, bahkan sutradara, produser dll.   

Btw, Innal ‘amalu bi niyah : tergantung ni’at-nya, kalo para produser, penulis dan pemain mempunyai ni’at agar penonton dapat hidayah dan pembelajaran, Insha Alloh mereka akan mendapatkan hidayah dari Alloh terlebih dahulu, kecuali mempunyai ni’at yg lain ya. Manusia hanya bisa berdo’a, Alloh yang menentukan.

“Pacaran”

Biasanya para remaja sangat senang jika dekat pujaan hati, kebanyakan langkah kaki mereka menuju ke tempat2 yang kurang baik, bisa jadi ke mall, bioskop, bahkan ke alang2 (buat nyari makan kambing kalik… :) ).

Namun, “Pacaran” versi saya alangkah indahnya….ehm..ehm…, dimulai dengan membangunkan dari tidur, “Qum…qum, ya zaujatiy” (Bangun…bangun.. ya istriku), “Ja a waqt shollah subh” (telah tiba shollat subuh…)…”Qum” sambil cium kening “pacarku” yang tercantik dan terindah yang Alloh berikan sebagai berkah dan amanah yang harus saya jaga untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.  “Hayya nusholli fii Masjid” (mari kita shollat di mesjid)…

Bersama zaujatiy, berwudhu dan bersiap2 menunaikan shollat di mesjid Al Azhar (bukan kairo, walopun berharap di kairo). Jika hujan, kita mengendarai asayyaaroh (mobil) yang Alloh amanahkan kepada kami agar digunakan untuk mencari ridho Alloh berupa rizqi dan memenuhi panggilan Alloh saat adzan mengumandang. Atau jika cuaca cerah kita berdua berjalan kaki, dengan menikmati kesehatan yang Alloh berikan kepada kita dengan melangkahkan kaki yang setiap langkah dapat menghapus dosa dan akan mendapatkan kebaikan. Ya…Alloh…betapa besar kenikmatan berupa kesehatan yang telah engkau berikan kepada kami, tapi sering kami menyepelekannya dan tidak menjaganya…Ampunilah dosa kami ya Alloh…

Fi Masjid, kita awali dengan shollat tahiyatul masjid dilanjud dengan shollat 2 rokaat sebelum shollat subuh, yang nilainya lebih baik dari dunia dan seisinya. Alloh berikan kebaikan yang sangat agung kepada orang2 yang melaksanakan shollat 2 rakaat sebelum shollat subuh, betapa manusia banyak mengejar kekayaan dan sering melupakan shollat ataupun melalaikan shollat (dengan menunda-nunda waktu shollat), tapi dengan shollat 2 rokaat sebelum subuh, kebaikannya jauh lebih besar dari pada apa yang kita cari selama ini/usahakan.

Shollat subuh berjamaah subuhpun dimulai, imamnya adalah pengurus mesjid dengan suara yang indah saat membaca surah2/ayah2 di rokaat pertama maupun kedua, dan diakhiri dengan zikir serta do’a. Saya hampiri istri untuk menuju “surga” (rumahku surgaku) :)

Diperjalan, kita bergandengan, berangkulan, sambil bercerita atau berdiskusi, diselingin dengan ketawa kecil membuat hati kami menyatu, duh mesra sekali sih…(yg penting halal).

Sampai di baituna (rumah kami), saya membuka qur’an dan membacakan dengan suara yang agak keras agar terdengar Zaujatiy(Al ‘Aroh : 204) : Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat hikmah.

Bersama mengambil hikmah, zaujatiy membacakan tafsir qur’an dan merenungi apa yang terkandung di dalamnya.

Kami awali hari dengan ibadah untuk menggapai surgaMU di dunia ini dengan penuh rizqy, rahmah dan ridhoNYA, untuk mencapai cita kami dan seluruh ummah muslimin menuju surga yang kekal dan bertemu dengan Rosululloh.

Smoga Alloh istiqomahkan kami, untuk selalu berharap mendapatkan nur ilahi dan hidayahNYA dengan selalu beribadah kepada Alloh Ta’ala dengan mencontoh sunnah Rosululloh.